Minggu, 25 November 2012



SEJARAH KOTA BANGKALAN- MADURA 

Bangkalan dulunya lebih dikenal dengan sebutan Madura barat. Penyebutan ini, mungkin lebih ditekankan pada alasan geografis. Soalnya, Kabupaten Bangkalan memang terletak di ujung barat Pulau Madura. Dan, sejak dulu, Pulau Madura memang sudah terbagi-bagi. Bahkan, tiap bagian memiliki sejarah dan legenda sendiri-sendiri. Berikut laporan wartawan Radar Madura di Bangkalan, Risang Bima Wijaya secara bersambung.
Menurut legenda, sejarah Madura barat bermula dari munculnya seorang raja dari Gili Mandangin (sebuah pulau kecil di selat Madura) atau lebih tepatnya di daerah Sampang. Nama raja tersebut adalah Lembu Peteng, yang masih merupakan putra Majapahit hasil perkawinan dengan putri Islam asal Campa. Lembu Peteng juga seorang santri Sunan Ampel. Dan, Lembu Peteng-lah yang dikenal sebagai penguasa Islam pertama di Madura Barat.
Namun dalam perkembangan sejarahnya, ternyata diketahui bahwa sebelum Islam, Madura pernah diperintah oleh penguasa non muslim, yang merupakan yang berasal dari kerajaan Singasari dan Majapahit. Hal ini diperkuat dengan adanya pernyataan Tome Pires (1944 : 227) yang mengatakan, pada permulaan dasawarsa abad 16, raja Madura belum masuk Islam. Dan dia adalah seorang bangsawan mantu Gusti Pate dari Majapahit.
Pernyataan itu diperkuat dengan adanya temuan – temuan arkeologis, baik yang bernafaskan Hindu dan Bhudda. Temuan tersebut ditemukan di Desa Kemoning, berupa sebuah lingga yang memuat inskripsi. Sayangnya, tidak semua baris kalimat dapat terbaca. Dari tujuh baris yang terdapat di lingga tersebut, pada baris pertama tertulis, I Caka 1301 (1379 M), dan baris terakhir tertulis, Cadra Sengala Lombo, Nagara Gata Bhuwana Agong (Nagara: 1, Gata: 5, Bhuwana: 1, Agong: 1) bila dibaca dari belakang, dapat diangkakan menjadi 1151 Caka 1229 M.
Temuan lainnya berupa fragmen bangunan kuno, yang merupakan situs candi. Oleh masyarakat setempat dianggap reruntuhan kerajaan kecil. Juga ditemukan reruntuhan gua yang dikenal masyarakat dengan nama Somor Dhaksan, lengkap dengan candhra sengkala memet bergambar dua ekor kuda mengapit raksasa.
Berangkat dari berbagai temuan itulah, diperoleh gambaran bahwa antara tahun 1105 M sampai 1379 M atau setidaknya masa periode Singasari dan Majapahit akhir, terdapat adanya pengaruh Hindu dan Bhudda di Madura barat.
Sementara temuan arkeologis yang menyatakan masa klasik Bangkalan, ditemukan di Desa Patengteng, Kecamatan Modung, berupa sebuah arca Siwa dan sebuah arca laki-laki. Sedang di Desa Dlamba Daja dan Desa Rongderin, Kecamatan Tanah Merah, terdapat beberapa arca, di antaranya adalah arca Dhayani Budha.
Temuan lainnya berupa dua buah arca ditemukan di Desa Sukolilo Barat Kecamatan Labang. Dua buah arca Siwa lainnya ditemukan di pusat kota Bangkalan. Sementara di Desa Tanjung Anyar Bangkalan ditemukan bekas Gapura, pintu masuk kraton kuno yang berbahan bata merah.
Di samping itu, berbagai temuan yang berbau Siwais juga ditemukan di makam-makam raja Islam yang terdapat di Kecamatan Arosbaya. Arosbaya ini pernah menjadi pusat pemerintahan di Bangkalan. Misalnya pada makam Oggo Kusumo, Syarif Abdurrachman atau Musyarif (Syech Husen). Pada jarak sekitar 200 meter dari makam tersebut ditemukan arca Ganesha dan arca Bhirawa berukuran besar.
Demikian pula dengan temuan arkeologis yang di kompleks Makam Agung Panembahan Lemah Duwur, ditemukan sebuah fragmen makam berupa belalai dari batu andesit.
Dengan temuan-temuan benda kuno yang bernafaskan Siwais di makam-makam Islam di daerah Arosbaya itu, memberi petunjuk bahwa Arosbaya pernah menjadi wilayah perkembangan budaya Hindu. Penemuan benda berbau Hindu pada situs-situs Islam tersebut menandakan adanya konsinyuitas antara kesucian. Artinya, mandala Hindu dipilih untuk membangun arsitektur Islam.
Arosbaya merupakan pusat perkembangan kebudayaan Hindu di Madura Barat (Bangakalan) semakin kuat dengan adanmya temuan berupa bekas pelabuhan yang arsitekturnya bernafaskan Hindu, dan berbentuk layaknya sebuah pelabuhan Cina. (Risang Bima Wijaya)

Minggu, 18 November 2012

cara membuat rainbow cake


Sekali pun sudah menjadi favorit selama beberapa bulan, rainbow cake masih tetap dicari. Kue ini memang unik. Ketika kue dibelah, akan terlihat lapisan yang berwarna-warni seperti pelangi. Rasa nikmatnya menggoyang lidah. Ini sepadan dengan cara membuatnya yang tidak sebentar.  Pasalnya, untuk bisa membuat lapisan berwarna-warni, diperlukan tujuh pamenggangan adonan yang berbeda warna untuk ditumpuk.
Anda bisa membuatnya sendiri kalau mau. Berikut ini disajikan resep cara membuat rainbow cake. Atau, Anda bisa pula melihat tutorialnya pada video yang ada.
Bahan:
  • 400 gram gula
  • 5 butir telur dan ambil putihnya saja
  • 350 gram susu UHT
  • 230 gram mentega
  • 2 sdt esens rasa vanila
  • 6 jenis pewarna makanan (merah, oranye, biru, ungu, hijau, kuning)
  • 4 sendok teh baking powder
  • 375 gram tepung
Bahan toping:
  • Springkle aneka warna
  • 100 gram keju
  • 100 gram mentega putih
Cara membuat:
  1. Tuangkan tepung, esense vanila, baking powder, dan garam ke wadah. Sisihkan.
  2. Putih telur dikocok hingga kaku dan sisihkan.
  3. Kocok mentega dengan gula sampai lembut dan tambahkan putih telur yang sudah dikocok tadi secara perlahan.
  4. Setelah kocokan adonan mentega, putih telur, dan gula merata, masukkan campuran adonan yang tersebut dalam poin no. 1.
  5. Tuang adonan ke dalam enam wadah berbeda. Masukkan pewarna makanan yang berbeda antara wadah satu dengan yang lain. Aduk sampai warna tercampur sempurna.
  6. Panggang semua wadah pada suhu 160 derajat Celcius selama 15-20 menit. Setelah selesai, ambil dan dinginkan cake. Sisihkan.
  7. Kocok krim keju dan mentega putih sampai lembut.
  8. Oleskan kocokan kedua krim ini pada tiap lapisan cake bagian atas. Lanjutkan dengan menumpuknya bersama cake lain. Ulangi langkah ini sampai semua cake disatukan.
  9. Saat semua menjadi utuh, lapisi semua bagian dengan sisa krim. Taburi semua bagian dengan springkle warna-warni.